Anaya terbangun perlahan, seperti seseorang yang kembali dari perjalanan jauh. Tubuhnya terasa berat, bukan sekadar lelah, tetapi remuk dengan cara yang asing. Ia mencoba menggerakkan pinggangnya sedikit, dan napasnya tertahan. “Ah…” lirihnya hampir tak terdengar. Rasa itu nyata. Nyeri yang samar, bercampur hangat yang belum sepenuhnya hilang. Terasa mengalir sesuatu di bawah sana. Oh astaga… sebanyak apa yang masuk? Lalu ia menyadari ada sesuatu yang melingkar di tubuhnya. Sebuah tangan kekar, hangat, menahan pinggangnya dari belakang. d**a keras menempel di punggungnya. Napas berat pria itu menyapu tengkuknya. Wow. Malam pertama. Pipinya langsung memanas. Matanya menatap jendela besar vila itu, cahaya pagi Mesir menyelinap tipis melalui tirai. Sungai Nil di kejauhan terlihat tenang,

