“Kenapa setiap aku bangun si Mas enggak ada?” Anaya menggerutu pelan sambil bangkit dari sofa ruang tengah, rambutnya masih acak-acakan, kulitnya masih menyimpan hangat yang membuat pipinya sulit kembali normal. Ia menoleh ke sekeliling vila yang sunyi, lalu meringis saat pinggangnya protes. “Padahal udah bikin aku… remuk kayak gini.” Ia memunguti pakaian yang berserakan dengan langkah tertatih-tatih, menyingkirkan satu-dua benda yang seharusnya rapi tapi kini seperti bukti bahwa sore tadi benar-benar kacau. Anaya akhirnya menyerah, meraih kaus longgar milik Gabriel yang tergeletak di sandaran kursi, memakainya begitu saja. Kaus itu jatuh sampai pertengahan paha, aromanya masih menempel tipis campuran sabun, udara luar, dan sesuatu yang membuat Anaya ingin tertawa sendiri. “Aduh,” gumamn

