“Tumben kamu mau sarapan di luar, olahraga di luar?” gumam Anaya masih setengah mengantuk sambil berdiri di depan cermin, melihat Gabriel sudah mengenakan kaus olahraga hitam dan sepatu lari. Rambutnya masih sedikit acak, tapi matanya sudah tajam seperti biasa. “Mas, emang beneran nggak ada kerjaan yang penting?” lanjutnya sambil menyisir rambutnya asal. Gabriel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Anaya sebentar, lalu berjalan mendekat dan meraih tangannya. “Cepat,” katanya singkat. “Lho? Sekarang banget nih?” “Kita keluar sebelum matahari naik.” Anaya ternganga kecil. “Serius?” Gabriel tidak memberi ruang untuk debat. Ia menggandeng tangan Anaya menuju pintu, mengambil kunci mobil, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil. Pagi Jakarta masih setengah te

