Sudah seminggu Gina bekerja sebagai sekretaris pribadi CEO di kantor megah yang menjulang di pusat kota. Gedung itu berdiri di antara baja dan kaca, namun hawa di dalamnya jauh lebih dingin dari pendingin ruangan. Setiap hari, hidupnya diisi dengan alur pekerjaan yang ketat: agenda rapat, rekap laporan, koordinasi dengan divisi, dan tentu saja—masuk dan keluar dari ruang kerja Jafran. Ruang itu … terlalu tenang, terlalu steril, terlalu terkontrol. Seperti pemiliknya. Tapi pagi ini berbeda. Belum pukul delapan, suara dalam dari interkomnya memanggil. “Bawa semua data rapat minggu lalu. Masuk ke ruangan saya sekarang.” Nada suaranya datar, tapi tak ada ruang untuk menawar. Seperti biasa. Gina berdiri cepat, merapikan rambutnya yang ia ikat kuda, lalu mengambil tablet dan map cokelat b

