Malam telah berganti menjadi dini hari saat Gina membuka pintu kontrakan dengan hati-hati. Suara engsel yang berdecit terdengar nyaring, menembus keheningan yang menggantung pekat di udara. Lampu ruang tamu sudah lama dimatikan. Hanya semburat cahaya jalanan yang menyusup melalui celah tirai, membentuk bayangan samar di lantai yang dingin. Di sofa reyot—yang telah menjadi saksi bisu banyak lelah—Ferdy tertidur meringkuk. Satu tangannya menopang kepala, sementara pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya tampak lusuh, bercampur keringat dan debu proyek yang mengering. Wajahnya terlihat letih. Garis-garis halus di sekitar mata dan mulut makin jelas, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena luka batin yang tak pernah benar-benar sembuh. Gina berdiri terpaku sejenak. Menatap diam-di

