Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu jalan menyala malu-malu, hanya menciptakan lingkaran cahaya samar di jalanan gang yang lembap. Udara malam lengket di kulit, seperti sisa-sisa siang yang enggan benar-benar pergi. Di dalam kontrakan sempit—tempat yang selama ini setia menjadi saksi bisu segala pasang-surut kehidupan mereka—Ferdy duduk sendirian di kursi kayu reyot. Kedua sikunya bertumpu di lutut, dagunya bertengger di atas kepalan tangan. Tubuhnya nyaris tak bergerak, seperti patung kesepian yang diletakkan begitu saja di sudut dunia. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Tapi Gina belum juga pulang. Ponsel Ferdy tergeletak di meja kecil di depannya. Layarnya berkedip hanya untuk menampilkan notifikasi dari grup proyek, berisi keluhan mandor soal material yang belum diki

