Malam yang Mati.

1105 Words

Langit dini hari seperti tirai kelabu yang jatuh terlalu berat di atas kota. Udara basah bekas hujan membuat langkah Ferdy terasa lebih berat. Jaket lusuhnya sudah basah sebagian, menempel di tubuh seperti beban, tapi ia tetap berjalan. Pelan. Tanpa arah. Ia bahkan tak tahu kenapa harus pulang. Tapi nyatanya, tak ada tempat lain untuknya selain kontrakan sempit itu—yang kini terasa lebih asing dari lorong mana pun yang ia lewati malam ini. Pintu kontrakan masih terbuka sedikit. Ferdy mendorongnya pelan. Suara engsel yang berderit memekakkan hati. Seperti kenangan yang enggan mati. Di dalam, Gina masih terjaga. Ia duduk bersandar di tembok ruang tengah, mata sayu, masih dengan pakaian kerjanya semalam. Wajahnya pucat. Mungkin karena dingin. Atau mungkin karena kenyataan yang tak bisa ia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD