Air hujan turun pelan-pelan, membasahi genting rumah kontrakan yang sudah tua. Tetesannya menyusup lewat celah atap yang retak, memukul lantai seperti irama kesepian yang tak pernah reda. Di dalam kamar mandi sempit, di balik pintu yang sedikit berkarat dan engsel yang berderit, Ferdy duduk diam di lantai. Tubuhnya bersandar lemas pada dinding yang dingin dan lembap. Kaos lusuh yang melekat di badannya basah, bukan hanya oleh air dari keran shower yang terus menetes… tapi oleh air mata yang sejak tadi tak henti mengalir dari matanya. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali memutar tuas keran. Mungkin awalnya ia berniat membasuh wajah. Tapi sejak air mengalir, tubuhnya seperti beku. Tak sanggup bergerak, tak sanggup bicara. Tangis Ferdy turun perlahan. Tanpa suara. Tanpa isakan. Tapi deras.

