Pagi harinya, Gina lupa membawa bekal makan siang yang sudah Ferdy siapkan. Ia meninggalkannya begitu saja di atas meja makan. Ferdy hanya memandangi bekal itu … lalu membuka isinya, mengambil satu sendok, dan memakannya sendiri. “Biar aku aja yang nerusin semuanya. Kamu udah capek, kan?” Ia tersenyum kecil. Sedikit getir. Tapi di balik senyum itu, hatinya diam-diam mulai menyiapkan pagar pertahanan. Jika Gina memang sudah tak bisa diselamatkan dari hatinya sendiri … maka Ferdy tahu, waktunya untuk memilih: Berjuang … atau melepaskan. *** Lampu-lampu gedung pencakar langit memantulkan cahaya seperti bayangan mimpi ke jendela kaca kantor Jafran. Kota Jakarta yang biasanya bising kini seolah hanya bernafas dalam bisikan. Ruangan itu lengang. Di antara meja kerja modern dan sofa kulit

