Wangi Maskulin

1142 Words

Malam berikutnya, Gina pulang lebih larut dari biasanya. Jam di dinding sudah mendekati pukul sepuluh ketika suara kunci berderak di pintu, disusul derit engsel yang menyeruak pelan ke dalam keheningan ruang kontrakan. Ferdy, yang sejak satu jam lalu duduk bersandar di lantai ruang tengah sambil memandangi brosur alat tukang tua—yang sebenarnya sudah ia hafal luar kepala—langsung menoleh. “Gina?” Nada suaranya pelan. Takut terdengar terlalu menuntut, tapi juga ingin memastikan bahwa perempuan itu benar-benar datang pulang. Gina masuk tanpa banyak suara. Langkahnya pelan, gerak tubuhnya lesu. Ia meletakkan tas kerjanya di atas kursi plastik dekat pintu. Rambutnya sedikit berantakan, make-up yang sejak pagi menempel di wajah kini sudah luntur sebagian, memperlihatkan mata yang sembab nam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD