Malam itu lambat. Seolah waktu malas bergerak di rumah kontrakan Ferdy dan Gina. Angin dari jendela yang tak tertutup rapat menggesek tirai tipis, menciptakan desiran seperti bisikan rahasia yang tak pernah selesai diucapkan. Lampu gantung kuning pucat menggantung di tengah ruangan. Cahayanya jatuh malas, menciptakan bayangan muram di lantai dan dinding kusam. Suasana rumah kecil itu seperti menahan napas. Ferdy duduk bersandar pada ranjang reyot, sementara Gina berada di ujung tempat tidur. Ia masih mengenakan kemeja kantornya yang sudah kusut, dengan rambut diikat sembarangan. Ada garis lelah yang jelas di wajahnya, dan jemarinya sibuk mengetik di layar ponsel—lalu menghapus, lalu mengetik lagi. Seperti ada perang di dalam pikirannya. Ferdy memperhatikan, diam-diam. Remote TV tergel

