Pagi itu, matahari bersinar dengan hangat, seolah ikut memberkati hari yang begitu dinanti. Di kediaman keluarga Diamanta, halaman yang biasanya tenang kini dipenuhi aktivitas. Tenda putih besar dengan hiasan bunga mawar merah muda berdiri megah, kursi-kursi berderet rapi, dan alunan musik gamelan modern mengiringi suasana yang penuh sukacita. Zola duduk di ruang rias, mengenakan kebaya putih berhiaskan payet yang berkilau. Rambut hitamnya ditata dengan sanggul klasik, dihiasi bunga melati segar. Tatapannya di cermin sempat goyah; ada gugup, ada bahagia, ada haru. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum kecil. “Zola, kamu cantik sekali,” ucap Dio, ayahnya, yang masuk dengan setelan jas abu elegan. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca. Zola menoleh, lalu bangkit dari kursi r

