Pagi itu, cahaya matahari menelusup lewat tirai tipis kamar apartemen. Suasana masih dipenuhi sisa hangat dari malam dan pagi yang panjang. Zola meringkuk di pelukan Ferdy, napasnya masih teratur. Tubuhnya terasa lelah, tapi senyum di wajahnya tak bisa disembunyikan. Ferdy mencium pelipisnya pelan. “Bangun, sayang. Kalau nggak, kamu telat ke kantor.” Zola bergumam malas. “Hm … kalau aku bilang mau cuti aja sampai nikah, kamu izinin nggak?” Ferdy terkekeh, tangannya mengusap punggung Zola yang mulus. “Kalau aku sih seneng. Bisa tiap hari sama kamu. Tapi kantor kamu yang bakal panik.” Akhirnya, dengan enggan Zola bangun. Mereka mandi bergantian, sarapan ringan, lalu bersiap. Ferdy mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan gelap—gaya sederhana tapi tetap membuatnya terlihat karismatik.

