Tiga hari libur panjang berlalu begitu cepat. Seolah baru kemarin mereka menyalakan mesin kapal pribadi dan melaju ke tengah laut, menikmati debur ombak dan angin hangat di wajah. Tiga hari yang seharusnya panjang terasa seperti sekejap—penuh tawa, sentuhan manis, dan kehangatan yang membuat hati Zola terasa penuh. Namun pagi ini, kenyataan menunggu: apartemen mereka, pekerjaan yang menumpuk, dan rutinitas yang harus kembali dijalani. Ferdy menatap Zola saat mereka berdua berjalan keluar dari apartemen menuju mobil. Wajah Zola masih memancarkan sisa-sisa hangat liburan, pipinya kemerahan karena matahari dan angin laut, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap menawan. Ferdy tersenyum, hatinya sesak dengan perasaan campur aduk. “Siap menghadapi dunia nyata lagi, Sayang?” tanyanya ringan sam

