Malam berikutnya, apartemen terasa lebih hangat dari biasanya. Zola duduk di kursi, menyesap teh hangat sambil menatap Ferdy yang sibuk memeriksa beberapa catatan di laptopnya. Wajahnya serius, tetapi matanya bersinar dengan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Hari ini mereka akan mulai membicarakan hal yang selama ini Ferdy simpan dalam hati: lamaran. “Jadi, kita mau mulai dari mana, Fer?” Zola bertanya, menatap Ferdy dengan penasaran. “Aku maksud, soal lamaran ini … mau pakai EO atau kita atur sendiri?” Ferdy menutup laptop, menyandarkan diri ke sofa sambil menatap Zola. “Hmm … aku pikir kita bisa diskusi dulu. Kalau mau sederhana tapi berkesan, aku rasa kita bisa atur sendiri. Tapi kalau mau pesta besar, tentu EO lebih praktis.” Zola mencondongkan tubuhnya, dagu bertumpu pada ta

