Apartemen sederhana Nero terasa panas dan sesak. Lampu ruang tamu menyorot lantai kayu yang berkilau, tapi suasana hati Nero jauh dari terang. Ia berdiri di depan jendela, menatap kota di bawah, rahang terkepal, tangannya mengepal di sisi tubuh. Di meja kopi, ponsel menampilkan berita online: Zola dan Ferdy resmi bertunangan. Judulnya besar, foto Zola tersenyum manis di samping Ferdy, tangan mereka saling menggenggam. Nero menghantam meja kaca dengan kepalan tangan, membuat gelas air jatuh dan pecah berantakan. Matanya merah, wajahnya tegang penuh kebencian. Di layar televisi, berita tunangan Ferdy dan Zola terus diputar berulang-ulang. “b******k!” teriaknya. “Sialan! Semuanya direbut sama dia!” Ia berjalan mondar-mandir, tak peduli pecahan kaca di lantai. Tubuhnya yang tegap kini tampa

