Langit sudah condong ke ungu ketika mobil Ferdy melaju keluar dari kawasan penjara. Bayangan kawat berduri yang menjulang di balik kaca spion seakan menjadi garis penutup masa lalu yang akhirnya ia berani tinggalkan. Ia menyalakan lampu kecil di dashboard, menatap sebentar amplop kosong di jok samping. Undangan itu sudah berpindah tangan—sebuah simbol sederhana, tapi bagi Ferdy, itu tanda bahwa ia benar-benar selesai dengan bab Gina. Hatinya terasa lega, tapi juga getir. Ada sisa perih yang sulit ia jelaskan. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang membuatnya tetap berdiri tegak: Zola menunggu di rumah. Mobilnya menembus lalu lintas kota yang mulai padat. Lampu-lampu jalan berkilat, suara klakson bersahutan, namun Ferdy hanya mendengar detak jantungnya sendiri. Di layar ponsel, notif

