Langit mendung tergantung berat di atas kota, seolah ikut menahan napas. Hujan rintik mulai jatuh pelan, menyisakan aroma tanah basah yang samar masuk ke jalanan. Mobil hitam meluncur perlahan di depan Rumah Tahanan Wanita, lampu sein berkedip, memantulkan bayangan panjang di aspal yang basah. Dari dalam mobil, Kamelia menatap gedung itu dengan tatapan tenang namun lembut. Wajahnya tak lagi menampilkan aura seorang nyonya penguasa kerajaan bisnis. Kali ini, yang terlihat hanyalah seorang ibu—lembut, penuh perhatian, dan siap mendengarkan. Ia membuka pintu mobil, langkahnya mantap tapi tidak kaku. Setiap langkahnya seakan diiringi detik waktu yang menandakan kesadaran bahwa hari ini, bukan soal bisnis, bukan soal kekuasaan. Hari ini, hanya tentang perempuan yang pernah memasuki kehidupan a

