Kunjungan Kamelia siang tadi terus berputar di kepalanya. Wajah ibu Ferdy itu, tenang tapi tegas, seperti menembus seluruh lapisan pertahanan dirinya yang selama ini keras seperti tembok. Kata-kata yang diucapkan—“mulailah dari memaafkan dirimu sendiri”—terus terdengar di telinganya, berulang kali, tanpa henti. Gina menutup mata, membiarkan air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan air mata takut atau marah. Ini adalah air mata kesadaran. Ia menyadari, selama ini ia hidup di dunia yang salah—dunia di mana ia menutupi kehampaan dengan kemewahan, di mana kepalsuan menjadi kebiasaan, dan di mana kebohongan sendiri dianggap sebagai strategi bertahan hidup. Ia menatap tangannya yang kini gemetar, bukan karena takut petugas atau teman satu sel, tapi karena ia merasakan beban kesalahan itu sep

