Gina menahan napas, tubuhnya bergetar. Tapi ia tidak menolak. Tidak melangkah mundur. Karena bagian terdalam dirinya ... ingin tahu seberapa jauh ia bisa pergi. Jafran menatap matanya, lalu menyentuh pinggang Gina dengan satu tangan. “Aku pengen punya kamu. Sepenuhnya. Tapi kamu masih tinggal sama pria itu. Masih bangun pagi dan lihat wajah dia duluan. Masih denger suara dia tiap malam. Aku gak kuat, Gina.” Suara Jafran nyaris bergetar. Nada itu—bukan lagi sekadar penguasaan, tapi nyaris ... luka. “Kalau kamu gak bisa resign, minimal keluar dari rumah itu. Pindah. Ke mana aja. Aku bisa bantu. Atau kamu tinggal di apartemenku. Aku gak akan sentuh kamu kalau kamu belum siap.” Gina menggeleng pelan, air matanya mengambang. “Aku gak tahu kenapa aku masih takut. Padahal aku juga udah per

