Beberapa saat kemudian, Gina berdiri sendiri di balkon kamarnya. Angin malam membelai rambutnya yang tergerai, membawa aroma hujan dan sisa-sisa keputusan yang belum tuntas. Matanya sembab, tapi di sudut bibirnya tumbuh sebuah senyum—tipis, getir, dan jujur. Bukan senyum seorang wanita yang sedang dimenangkan, melainkan seorang istri yang sadar ... dirinya telah kalah oleh rasa kosong yang lama ia sembunyikan. Ia menatap layar ponselnya. Ferdy: 2 pesan tak terbaca. Jemarinya tak bergerak untuk membuka. Hanya diam, lalu perlahan ia menekan tombol daya. Layar padam. Hatinya pun demikian. Malam itu, tak ada kata. Tak ada penjelasan. Tak ada pengakuan. Hanya langit gelap yang menjadi saksi—bahwa Gina, yang kini berdiri sendiri di balkon hotel mewah itu, bukan lagi istri dari rumah kont

