Maya baru benar - benar merasa lelah setelah pintu kamarnya tertutup. Rumah orang tuanya senyap, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Ia menyalakan lampu meja, lalu duduk di tepi ranjang tanpa langsung berganti pakaian. Sepatunya sudah dilepas, tasnya tergeletak begitu saja di lantai. Ia menghela napas panjang. Percakapan di lounge hotel tadi terus berputar di kepalanya. Setiap kalimat Nadira terasa seperti disentuhkan perlahan ke luka yang selama ini ia tutupi rapat. Setiap ucapannya terasa jujur dan menarik egonya untuk turun Maya merebahkan tubuhnya, menatap langit - langit kamar. Tangannya dipasrahkan disisi tubuh. "Aku sekarang nggak sendirian," gumamnya lirih, mengingat kalimat Nadira. Entah sejak kapan, ia terbiasa menanggung semuanya sendiri. Menjadi anak yang sempat n

