Ternyata Bali punya caranya sendiri untuk menarik orang datang. Bukan hanya sebagai tempat singgah atau liburan, tapi sebagai ruang yang memaksa seseorang jujur pada perasaannya sendiri. Pagi ini, Maya sudah menginap satu malam di hotel langganannya, tapi saat ini ia memilih berdiam diri di kamar, membiarkan waktu berjalan tanpa ia sentuh. Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Cahaya matahari masuk dari balik vitrase, jatuh tepat di lantai kamar yang rapi dan sunyi. Maya duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam, napasnya pendek - pendek, ia tengah merisaukan suasana yang belum tahu bagaimana nantinya. Ia bahkan tidak turun untuk sarapan, pesan antar ke kamar pun tidak. Bukan karena dia tidak lapar, tapi karena perutnya terasa tidak nyaman. Tanpa makan saja rasanya

