Maya melangkah masuk ke Nadira’s Table dengan langkah yang nyaris tanpa suara. Pintu kaca itu terbuka perlahan, membiarkan udara siang yang hangat ikut menyelinap ke dalam ruangan, bercampur dengan aroma diffuser yang lembut dan wangi khas resto ini. Ada bau rempah yang familiar, menenangkan, seperti selalu berhasil membuat siapa pun merasa pulang. Sudah beberapa hari ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Tepatnya lima hari. Padahal rasanya baru kemarin ia duduk di salah satu sudut, menunggu tanpa benar - benar menunggu siapa pun. Malah melihat Reza dengan wanita lain ... tapi ah sudahlah, Maya sudah tidak ingin mengingat itu lagi. Seperti biasa, staf yang berjaga di depan langsung mengenalinya. "Bu Maya," sapa Agus sambil tersenyum ramah. "Silakan, mau duduk di mana?" Maya membala

