Bian langsung mematikan api kompor di depan Nadira ketika ia menyadari Nadira seperti lupa dengan apa yang sedang ia kerjakan. Perempuan itu berdiri mematung, spatula masih berada di tangannya, sementara aroma tumisan yang hampir gosong memenuhi udara dapur kecil apartemen itu. Bian mengerling geli sekaligus gelisah, kalau sampai terjadi kebakaran atau masakannya benar-benar gosong, ia tahu dirinya juga yang akan repot. Bau bawang yang sedikit kecokelatan memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi sabun cuci dari wastafel yang masih basah. Nadira sendiri tampak seperti sedang kehilangan fokus, matanya menatap ke arah yang salah, seakan pikirannya berjalan jauh sementara tubuhnya tertinggal. Ketika Bian mematikan kompor tadi, Nadira baru tersentak. Napasnya tertahan. Jantungnya serasa melom

