Pagi itu di Sapporo datang dengan ritme yang berbeda. Bukan lagi pagi untuk menjelajah, bukan pagi untuk malas-malasan di kamar hotel, melainkan pagi yang menandai akhir dari perjalanan mereka sebagai pengantin baru yang baru belajar menikmati dunia berdua. Nadira bangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi koper-koper yang sudah tertutup rapi sejak malam sebelumnya. Tidak ada kepanikan. Tidak ada tergesa. Semua sudah disiapkan dengan tenang. Ia hanya merasa sedikit melankolis, perasaan yang selalu datang setiap kali sebuah perjalanan akan berakhir. Bian masih terlelap ketika Nadira berdiri dan menarik tirai jendela sedikit. Belum ada cahaya pagi Sapporo. salju masih ada, tapi tidak lagi sedingin hari pertama mereka tiba. "Udah bangun?" suara Bian terdengar serak dari balik

