Malam Terakhir

2101 Words

Pagi itu datang tanpa tergesa. Cahaya pucat dari lapu luar menembus tirai kamar, tidak terang, tidak juga muram. Nadira terbangun lebih dulu, matanya terbuka tapi pikirannya masih tertinggal di tempat lain. Ia tidak langsung bergerak. Hanya berbaring, memandangi langit - langit sambil menarik napas pelan, mencoba merapikan sisa perasaan yang menempel sejak mimpi tadi. Ada rasa sesak yang tidak jelas asalnya. Ada wajah Reza. Tidak utuh. Tidak runtut. Hanya potongan - potongan yang sulit dirangkai. Suaranya samar, seperti datang dari kejauhan. Ada tawa singkat, lalu entah kenapa berubah menjadi diam yang panjang. Nadira tidak ingat apa yang mereka bicarakan dalam mimpi itu, tapi ia ingat perasaannya dengan jelas. Sedih. Tangisnya di mimpi terasa nyata sampai dadanya ikut nyeri ketika i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD