Marcel benar-benar terkurung. Kegelapan menelan separuh ruangan itu, hanya diterangi bias cahaya lampu gantung yang redup. Aroma besi dari darah kering masih menguar di udara, menempel di kulitnya yang terasa perih. Dia duduk di tepi ranjang besar dengan tangan menggenggam rambut, menatap kosong dinding batu berlapis panel kayu. Di luar jendela, matahari sudah tenggelam menyisakan sisa cahaya oranye di balik kabut kebiruan. Ia tak tahu bagaimana keadaan Vita sekarang. Apakah dia masih di rumah sakit? Sudah sadar? Atau… bahkan tidak lagi bernapas? Pertanyaan itu membuat dadanya sesak. Marcel ingin keluar. Sekalipun harus berjalan kaki dari mansion hingga ke rumah sakit, ia akan melakukannya. Tapi begitu langkahnya mendekati pintu, klik. Suara kunci berputar dari luar. Pintu terbuka. Di s

