Suara pintu depan berderit membuatnya tersentak. Arga pulang. Nayara berdiri sejenak, menahan napas. Hatinya berdebar, bukan karena rindu, melainkan takut—takut dengan wajah dingin suaminya, takut dengan jarak yang kian melebar di antara mereka. Arga muncul di ambang pintu, jas kerjanya tergantung di tangan, kemeja putihnya agak kusut. Wajahnya tampak letih, tapi juga keras. Matanya singgah sebentar pada Nayara, sebelum kemudian beralih ke meja makan tanpa berkata apa-apa. “Sudah makan?” suara Nayara akhirnya pecah, lirih, hampir tak terdengar. Arga hanya mengangguk singkat, tanpa benar-benar menoleh. Gerakannya kaku, seperti mesin yang sudah diprogram untuk bekerja, pulang, lalu diam. Nayara ingin mendekat, menanyakan bagaimana harinya, apa dia lelah, apakah butuh ditemani. Tapi lang

