Arga menghela napas, berdiri, lalu berjalan ke arah jendela. Dari sana ia bisa melihat jalanan yang mulai ramai, klakson mobil, suara motor, hiruk-pikuk kota. Ia bersandar, mencoba mengalihkan kegelisahan ke luar dirinya. “Nayara, aku hanya … tertekan. Banyak hal di kantor, di keluarga. Kamu jangan salah paham.” Nayara berdiri pelan, menghampirinya. “Mas, aku tahu ada yang salah. Dan aku tahu ibumu bicara sesuatu padamu semalam.” Arga menoleh cepat, kaget. “Kamu … tahu?” “Aku tidak perlu ada di sana,” jawab Nayara tenang, meski matanya berkaca-kaca. “Aku hanya istri yang cukup peka. Aku tahu kamu sedang ditarik ke arah yang berbeda.” Arga menatapnya lama, lalu menutup mata sejenak. Dia benar, pikirnya. Aku memang sedang ditarik antara cinta dan tuntutan. Tapi mulutnya hanya sanggup men

