Di sisi lain, Arga mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Jalanan malam yang sepi seolah tak berarti. Lampu-lampu kota berkelebat di kaca depan, tapi matanya kosong. Kedua tangannya menggenggam setir erat-erat, keringat dingin menetes di pelipisnya. Kata-kata Shanaya terus terngiang: “Kamu pikir kamu masih punya keluarga utuh?” Arga menekan pedal gas lebih dalam, mencoba melarikan diri dari suara itu. Tapi semakin cepat ia melaju, semakin jelas suara itu menjerit di kepalanya. Wajah Nayara kembali muncul di ingatannya—mata yang penuh luka, bibir yang bergetar menahan tangis, tubuh yang berdiri kaku di samping koper. Dharma dan Shaila pun ikut terbayang: anak-anaknya yang polos, yang hanya tahu ayah mereka sebagai pelindung, panutan. Apa jadinya jika mereka tahu kebenarannya? Arga

