Dilema yang Membakar.

1284 Words

“Apa-apaan ini?” Arga menggeram. “Kamu bilang … kamu bilang mau nyakitin diri sendiri! Kamu ….” Suaranya pecah di ujung kalimat, antara marah dan lega. Shanaya berjalan mendekat, tangannya terulur menyentuh lengan Arga. “Aku cuma … butuh kamu datang. Aku butuh kamu, Arga.” Arga menepis tangannya. “Kamu gila?! Aku ninggalin anak-anak di rumah cuma buat ini?! Kamu pikir ini mainan?” Shanaya memiringkan kepala, wajahnya tetap manis meski matanya berkilat puas. “Kamu datang kan? Berarti aku masih penting buat kamu. Berarti aku lebih penting daripada mereka, ‘kan?” Arga memijit pelipisnya. “Shanaya, berhenti. Ini kelewatan.” Shanaya mendekat lebih lagi, wajahnya hanya beberapa inci dari d**a Arga. “Kamu marah ya? Tapi aku senang … kamu datang. Aku kira kamu bakal pilih mereka, ternyata kam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD