Di luar jendela apartemen rahasia itu, kota masih ramai dengan lampu-lampu yang berkelip. Namun, di dalam ruangan, suasananya jauh dari tenang. Aroma parfum mahal bercampur dengan asap rokok yang mengepul, menebarkan atmosfer pengap. Shanaya duduk di sofa dengan wajah masam, rambutnya tergerai berantakan, gaun santainya melorot di bahu. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, sementara Mahesa berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. “Mahesa, aku butuh kepastian,” suara Shanaya pecah akhirnya. “Kehamilan ini bukan mainan. Aku nggak bisa terus-terusan sendirian hadapi semuanya.” Mahesa berhenti melangkah, menatap tajam ke arahnya. “Aku sudah bilang, kan? Jangan pakai kehamilan itu buat tekan aku.” Shanaya mendengus, meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. “Tekan? Ini kenyataan, Mahe

