Langit malam itu kelam, awan menutup bulan, meninggalkan apartemen Arga dalam bayang-bayang yang muram. Udara di ruang tamu masih panas oleh pertengkaran yang baru saja pecah. Koper besar milik Nayara sudah berada di dekat pintu, pakaian anak-anak tertata seadanya di dalamnya. Dharma duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca, sementara Shaila memeluk boneka kecil di tangannya, kebingungan dengan teriakan ayah dan ibunya yang masih terngiang. Arga berdiri mematung, napasnya naik turun. Ia ingin menahan Nayara, ingin berteriak agar istrinya tidak pergi. Namun sebelum kata-kata itu sempat keluar, ponselnya bergetar di saku. Getar yang terasa seperti alarm maut. Ia melirik layar—nama Shanaya terpampang jelas. Jantung Arga berdentum keras. Tubuhnya menegang, seakan dunia menyorotinya dalam satu

