Jam dinding di ruang keluarga berdetak pelan. Jarumnya menunjukkan pukul sebelas malam. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton; layar menampilkan sinetron malam yang dialognya terdengar seperti gema jauh di telinga Nayara. Ia duduk di sofa, mengenakan piyama berbahan katun, rambutnya diikat seadanya. Di depannya, cangkir teh melati sudah dingin. Sekali lagi, ia menunggu. Arga belum pulang. Nayara melirik ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Padahal biasanya, meski sibuk, Arga selalu menyempatkan diri mengirim kabar. Entah sekadar menulis: “Aku pulang agak telat, jangan tunggu.” Tapi beberapa minggu terakhir, pesan itu hilang. Yang ada hanya keheningan panjang, lalu suara pintu terbuka menjelang dini hari. Malam ini pun, ia bisa menebak pola yang sama. Suara kecil terd

