Namun setiap kali ia mencoba bangkit, Shanaya menahan tangannya. “Jangan pulang dulu,” rengeknya manja dengan mata setengah terpejam. “Aku belum puas punya kamu. Dunia di luar sana bisa menunggu.” Arga menunduk, mencium keningnya, lalu akhirnya melepaskan pelukan. “Aku harus pergi. Kalau aku pulang hampir pagi lagi, aku bisa benar-benar ketahuan.” Shanaya membuka mata, menatapnya tajam. Ada sedikit kekecewaan, tapi juga senyum tipis yang penuh kepastian. “Tenang saja, Ga. Kamu akan balik lagi. Kamu selalu balik.” Kalimat itu menampar Arga, karena ia tahu benar kebenarannya. Setiap kali ia berjanji pada dirinya untuk berhenti, Shanaya selalu berhasil menariknya kembali. Seperti malam ini. Arga bangkit, meraih kemeja yang tercecer di lantai. Saat ia mengenakannya, aroma parfum Shanaya ma

