Pagi itu, matahari baru setengah meninggi ketika Arga sudah berangkat ke kantor lebih awal. Ia keluar rumah dengan tergesa-gesa, jas hitam rapi menempel di tubuhnya, dan tas kulit tersampir di bahu. “Ada rapat mendadak,” begitu alasannya singkat, tanpa sempat menatap mata Nayara lebih lama. Nayara hanya mengangguk, tetap berusaha menahan diri agar tidak bertanya banyak. Hatinya masih terasa berat, bekas pertengkaran semalam seolah meninggalkan luka yang baru saja dibalut tapi belum sembuh. Ia tidak ingin memulai hari dengan pertikaian baru, tidak sebelum Dharma dan Shaila pulang dari sekolah dan ia bisa menenangkan diri. Anak-anak sudah bersiap dan pergi lebih awal. Dharma membawa tas sekolahnya dengan semangat yang sedikit dipaksakan agar ibunya tidak melihat kesedihan yang tersembunyi,

