Malam itu, rumah terasa lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras, melainkan karena keheningan yang menyelimuti ruang-ruang di dalamnya. Lampu ruang keluarga masih menyala, tetapi tak ada tawa anak-anak, tak ada percakapan antara suami dan istri. Dharma dan Shaila sudah lebih dulu tertidur setelah lelah bermain sore tadi. Nayara memastikan keduanya nyaman, menyelimuti tubuh mungil mereka dengan hati-hati. Ia menatap wajah polos anak-anaknya, lalu menarik napas panjang. Ada rasa lega, sekaligus sesak. Lega karena hanya dengan melihat mereka, hatinya kembali tenang. Sesak karena di balik pintu kamar itu, masih ada kenyataan pahit menunggunya—Arga. Sejak sore tadi, setelah kemarahan terakhir Arga yang dilontarkan tanpa memberi Nayara kesempata

