Dharma menoleh, kaget melihat adiknya berdiri di ambang pintu dengan boneka beruang dalam dekapan. “Kenapa belum tidur, Sha?” tanyanya. Shaila masuk perlahan, lalu duduk di tepi kasur kakaknya. Matanya membulat, penuh kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. “Mas Dharma … kenapa Ayah dan Bunda suka bertengkar? Apa karena kita?” Pertanyaan itu membuat d**a Dharma terasa berat. Ia terdiam cukup lama, menutup bukunya, lalu menepuk kasur agar Shaila duduk lebih dekat. “Bukan karena kita,” jawabnya hati-hati. “Mereka lagi … ada masalah, kayaknya. Tapi kita nggak boleh bikin mereka tambah pusing.” Shaila menggigit bibir, lalu menunduk. “Tapi aku nggak suka kalau Bunda kelihatan sedih. Aku pernah lihat Bunda nangis di dapur, Mas.” Suaranya kecil, hampir putus. “Aku pura-pura nggak lihat, tapi

