Bisikan yang Menyebar.

1114 Words

Kafe mewah di pusat kota sore itu dipenuhi cahaya lampu gantung kristal yang berkilau. Aroma kopi premium bercampur wangi kue tart dan croissant yang baru saja dipanggang. Di setiap sudut, meja bundar dihiasi bunga mawar putih dan serbet kain berlipat rapi. Para istri pengusaha dan pejabat berkumpul dengan gaun cantik, perhiasan berkilauan, serta tawa yang menggema di udara. Namun di balik riuh itu, ada hawa lain yang sulit diabaikan. Hawa dingin, samar, tapi nyata. Nayara melangkah masuk dengan tenang. Gaun sederhana warna biru tua yang ia kenakan sebenarnya menonjolkan kelasnya sendiri—elegan tanpa harus berlebihan. Rambutnya digelung rapi, make up tipis memperlihatkan kecantikannya yang alami. Ia datang bukan untuk mencari sorotan, hanya memenuhi undangan sahabat lamanya yang duduk di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD