Pagi itu rumah keluarga Wiranata Maheswara dipenuhi semarak yang sederhana namun hangat. Aroma cokelat dari kue buatan Nayara masih memenuhi ruang makan, bercampur dengan wangi balon lateks yang menempel di dinding. Anak-anak tertawa, suara mereka bergema memenuhi ruangan kecil itu. Meski sederhana, perayaan ulang tahun Shaila terasa istimewa—lebih berharga daripada pesta mewah di hotel berbintang mana pun. Shaila berdiri di kursi kecil, meniup lilin angka tujuh yang berdiri gagah di atas kue. Tepuk tangan bergemuruh dari Dharma dan Nayara, membuat pipinya merona bangga. Gaun merah muda berbahan tulle yang ia kenakan bergoyang mengikuti gerak tubuhnya, membuatnya tampak seperti putri kecil dari negeri dongeng. “Selamat ulang tahun, Adik!” seru Dharma dengan suara lantang, sambil menepuk

