Harus Memilih.

1056 Words

Arga menutup wajah dengan telapak tangannya, menghela napas panjang. “Apa yang sebenarnya kamu mau, Shanaya?” gumamnya pelan. Sejak awal ia mencoba menjaga jarak dengan perempuan itu. Tapi Shanaya selalu punya cara untuk menyelinap masuk. Kini, yang dijadikan target bukan dirinya—melainkan putri kecilnya. Itu kelewatan. Ketukan pintu terdengar. Sekretarisnya, Sinta, masuk dengan beberapa berkas. “Pak Arga, ini dokumen kontrak yang harus ditandatangani sebelum rapat sore nanti.” Arga hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Sinta sempat melirik ekspresinya, tapi ia cukup profesional untuk tidak bertanya. Setelah meletakkan berkas, ia keluar, meninggalkan Arga kembali dalam kesunyian. Arga menatap layar komputer di depannya, tapi otaknya sama sekali tak bisa fokus pada angka-angka laporan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD