Air Mata yang Tersembunyi.

1047 Words

Malam merambat pelan di rumah yang sudah sunyi. Angin hanya sesekali menyelinap melalui celah jendela, menebarkan dingin yang menggigit. Di kamar anak-anak, suara napas teratur Dharma dan Shaila terdengar lembut, tanda mereka sudah tenggelam dalam mimpi. Namun di kamar utama, Nayara duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk, tangannya meremas sprei seakan itu satu-satunya pegangan untuk tetap bertahan. Pertanyaan Dharma sore tadi terus berputar di kepalanya. Siapa Shanaya? Kalimat polos itu menjadi gema yang menusuk hatinya, membuat luka lama terbuka lebar. Nayara menutup wajah dengan kedua telapak tangan, berusaha menahan tangis, tapi air matanya tetap lolos, membasahi sela jemarinya. Ia berdiri, berjalan pelan menuju meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah itu tampak a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD