Suara pintu apartemen tertutup pelan, diikuti aroma mawar dan vanila yang langsung menyambut. Arga berdiri di ambang, bahunya tegang. Setiap kali memasuki ruang ini, hatinya bergetar dengan dua rasa yang bertolak belakang: takut dan rindu. Takut karena ia tahu seharusnya ia tidak berada di sini. Rindu karena sejak mencicipi Shanaya kembali, pikirannya terus saja mencari-cari alasan untuk pulang larut. Shanaya muncul dari dapur dengan gaun satin merah muda tipis, rambut tergerai, senyum menggoda. “Akhirnya datang juga. Aku kira kamu memilih jadi pria baik malam ini.” Arga menelan ludah, berusaha menahan tatapannya. “Aku nggak bisa lama. Besok ada rapat pagi-pagi.” Shanaya tertawa kecil, berjalan mendekat, jemarinya menyusuri dasi Arga. “Kamu selalu bilang begitu. Tapi nyatanya, tiap ka

