Kamar itu sepi. Jam dinding berdetak pelan, tapi setiap detaknya terdengar menusuk. Tirai jendela bergoyang pelan tertiup angin malam yang masuk melalui celah kecil. Namun tak ada yang mampu menenangkan kegundahan Nayara. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus bekerja. Bayangan wajah Arga—wajah yang dulu penuh senyum hangat—kini berubah dingin, mudah tersulut amarah. Setiap kali lelaki itu menghardik, setiap kali ia merasa tak didengarkan, satu persatu keping kepercayaannya runtuh. Dan malam ini, setelah pertengkaran hebat, luka itu semakin dalam. Nayara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, bukan hanya karena tangis, tapi juga karena ketakutan. Ia takut bahwa semua ini benar-benar akan berakhir. Takut bahwa janji-janji itu hanyalah utopia yang tak akan kembali. *** Di

