Malam itu, perjalanan pulang dari rumah keluarga besar terasa lebih panjang dari biasanya. Jalanan kota yang sepi hanya dihiasi lampu jalan berwarna kuning pucat, menebar cahaya samar di atas aspal basah sisa hujan sore. Wiper sesekali bergerak menghapus embun tipis di kaca depan, menambah ritme pada sunyi yang mencekam. Di dalam mobil, keheningan menggantung pekat. Hanya suara mesin halus dan hembusan pendingin udara yang terdengar, berpadu dengan detak jam digital di dashboard. Nayara duduk bersandar di kursi penumpang depan, tubuhnya condong ke arah jendela. Tangannya bertaut di pangkuan, jari-jarinya saling meremas seolah mencari kekuatan. Dari pantulan kaca, ia melihat bayangan wajahnya sendiri—datar, tanpa ekspresi. Namun matanya … menyimpan ribuan kata yang ditahan. Kata-kata yang

