Ia melangkah perlahan, semakin dekat. Dari balik kaca, samar-samar terlihat dua siluet. Seorang pria tegap, jelas itu Arga. Dan seorang wanita berambut panjang, duduk agak condong ke arahnya. Darah Nayara serasa berhenti mengalir. Wanita? Pintu tidak tertutup rapat. Hanya menyisakan celah kecil. Dari sana, suara-suara masuk jelas ke telinganya. “Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi dalam posisi seperti ini,” suara seorang perempuan, lembut sekaligus genit. Arga menanggapi dengan tawa kecil. “Ya, hidup memang penuh kejutan, Shanaya.” Nayara membeku. Nama itu menghantam keras, lebih tajam dari pisau. Shanaya. Tangannya yang menggenggam kotak makan bergetar hebat. Dunia seolah berputar. Semua firasat buruknya terjawab dalam satu kata itu. Shanaya. Perempuan masa lalu yang selama

