Jemputan yang Tidak Diundang.

1064 Words

Pagi itu, langit Jakarta berwarna kelabu. Awan menumpuk, menahan sinar matahari yang biasanya menembus jendela kamar Dharma dan Shaila. Di rumah, Nayara sudah sibuk menyiapkan sarapan, sementara kedua anaknya duduk di meja makan dengan wajah yang masih mengantuk. “Dharma, makan rotinya habiskan. Jangan cuma diaduk-aduk selainya,” kata Nayara sambil memeriksa kotak bekal yang ia siapkan untuk Shaila. Anak lelaki itu mendengus kecil. “Bunda, nanti aku lapar di sekolah. Simpan aja buat jam istirahat.” Shaila terkikik pelan. “Ih, Mas Dharma memang suka cari alasan biar nggak makan pagi.” Nayara menghela napas. Meski lelah dengan segala masalah rumah tangganya bersama Arga, ia tetap berusaha menampilkan wajah penuh kasih di depan anak-anak. Baginya, menjaga rutinitas anak adalah prioritas.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD