“Pintar sekali, Nak,” bisik Nayara pelan meski Dharma tak mendengar. Beberapa ibu di depannya berkomentar sambil bertepuk tangan. “Anaknya Bu Nayara ternyata berbakat juga, ya.” Nada itu terdengar lebih tulus daripada gosip pagi tadi, tapi Nayara tidak bisa sepenuhnya merasa lega. Ia masih dihantui oleh kalimat-kalimat yang menusuk hatinya: ‘Arga terlalu tampan untuk sekadar jadi suami dari perempuan biasa.’ Shaila tampil setelahnya dengan kostum tari tradisional. Gerakannya luwes, wajahnya berseri. Penonton bersorak riuh, termasuk Nayara yang berdiri paling tinggi memberi tepuk tangan. Namun, di balik kegembiraan itu, ada satu kursi kosong di sebelah Nayara—kursi yang seharusnya diisi oleh Arga. “Ayah nggak datang?” tanya Dharma ketika acara usai, matanya mencari-cari. Nayara berjon

