Kenapa Arga harus berbohong? Kenapa menyebut Shanaya sebagai “klien baru”? Pikiran itu menyeretnya pada potongan adegan beberapa hari lalu. Malam ketika ia baru keluar dari kamar anak-anak usai menidurkan mereka. Dari balik pintu ruang kerja, samar-samar ia mendengar suara Arga di telepon. Nada suaminya terdengar lebih rendah, nyaris berbisik. Ia tidak bermaksud menguping, tapi telinganya menangkap jelas satu nama yang membuatnya berhenti di koridor. “Ya, Shanaya … kita atur jadwalnya besok.” Hanya itu. Sebelum pintu ditutup rapat dan suara Arga tenggelam. Saat itu, Nayara mencoba menepis, menganggap telinganya salah dengar. Tetapi semalam, ketika ponsel Arga berkedip di meja nakas, matanya tanpa sengaja menangkap pesan singkat dari nomor baru: “Besok di kantor atau kafe, mana lebih n

